Resensi Buku "Rethinking Multiculturalism, Keberagaman Budaya dan Teori Politik"

RESENSI BUKU
I.                   Identitas Buku
Judul buku              : Rethinking Multiculturalism, Keberagaman Budaya dan                                           Teori Politik
Pengarang                   : Bikhu Parekh
Penerbit                       : Impulse & Kanisius
Kota Terbit                  : Yogyakarta
Tahun Terbit                : 2008
Bagian                         : Bab 6 Menata Kembali Negara Modern
Halaman                      : 243-261

II.                Ringkasan
            Negara modern memiliki ciri tersendiri, dimana memformulasikan politik yang baru dengan menyatukan visi tatanan politik tertentu. Dan melakukan  penyesuaian dengan teori atau model negara dominan serta melakukan kompromi untuk mencapai negara ideal. Dalam pemerintahan negara pramodern dibedakan berdasarkan cara hidupnya bukan wilayahnya, seperti suku di Afrika, masyarakat muslim, dan Yuhadi. Mereka walaupun berpindah-pindah namun membawa hukum yang mereka miliki baik simbol maupun dewanya. Cara hidup mereka sama, wilayah hanya memiliki makna politik, moral dan legal yang terbatas.

Resensi Opini "Negara Vs Pancasila"



Ø  Data Publikasi
Judul                            : Negara Vs Pancasila
Pengarang artikel         : Mochtar Pabottinggi
Penerbit                       : Kompas
No / Tanggal terbit      : 27 Oktober 2015
No. Halaman               : Halaman ke-6
Ø  Ringkasan
Kontroversi bela negara ada 4 hal yaitu
1.      Semua pelaksana pendidikan bela negara seharusnya memiliki wibawa dan kredibilitas
2.      sasaran kelompok usia dan sasaran target waktu pendidikan bela negara mestilah ditentukan oleh realitas di Tanah Air.
3.      jika program ini dimaksudkan sebagai jalan mewujudkan apa yang disebut "revolusi mental", ia adalah jalan yang vulgar-kasar dan menggampangkan.
4.      untuk menilai bagaimana laku para pelaksana negara vis-à-vis ideal-ideal tertinggi bangsa kita. Dengan kata lain, bagaimana sebenarnya negara memperlakukan Pancasila selama ini.

Resensi Tajuk Rencana "Sungguh, Ini Tragedi Nyata"



TAJUK RENCANA: Sungguh, Ini Tragedi Nyata (Kompas) Angka itu telah berbicara. Hutan dan lahan yang terbakar 1,7 juta hektar. Lebih dari 43 juta warga terpapar dan 504.000 warga terkena infeksi saluran napas. Tidak hanya itu, terdapat 12 warga meninggal dan kerugian materi ditaksir sekitar Rp 20 triliun. Narasi akan lebih dramatis jika pada angka di atas ditambahkan data berikut: asap juga melumpuhkan aktivitas penerbangan selama hampir dua bulan, mematisurikan perekonomian rakyat, dan menghentikan aktivitas pendidikan. Kisah tentang penderitaan pasangan keluarga Ilhami dan Linda di Palangkaraya dalam harian ini kemarin juga menggugah kita. Sang anak, Muhammad Rafa Rafsyanjani, baru berumur 3 bulan, divonis menderita radang paru-paru. Pada rongga dadanya tampak cekungan dalam, sedalam batuk yang ia keluarkan. Luas dan masif skala kerusakan kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan. Kita juga mendengar kebakaran terjadi di sejumlah wilayah lain Indonesia, seperti di Gunung Lawu, Timika, dan Ternate. Indonesia seolah tengah terbakar. Setidaknya sejak tahun 1997, meski ada catatan tentang kebakaran hutan sebelum itu, Indonesia tampak berada di atas panggung internasional, sekurang-kurangnya regional, secara amat memalukan. Juragan kelapa sawit, yang berusaha memperluas areal usahanya, telah melakukan aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar hutan. Sebegitu jahatnya aktivitas itu sehingga kita merasakan azab seperti dirasakan saudara kita di Riau, Jambi, Sumsel, Kalsel, dan Kalteng. Memang tahun ini El Nino yang menghasilkan kekeringan panjang memperparah keadaan. Namun, pelaku pembakaran, dan pihak yang mengizinkan hal itu terjadi, sulit dimaafkan. Denda triliunan rupiah pun terlalu ringan dibandingkan dampak yang diakibatkan. Kita harus jujur pada diri sendiri, bahwa kemarin kita lalai dalam memberikan perizinan sehingga kapital dan kerakusan meruyak leluasa. Jika pemerintah tegas dan membela kepentingan rakyat, sejak awal, pelaku pembakaran hutan pasti telah ditindak tegas. Nyatanya itu tak terjadi. Pemerintah demi pemerintah memaafkan dan menoleransi perilaku buruk sehingga bencana asap terus berulang setiap tahun. Indonesia yang tak pernah mau belajar rela diolok-olok bangsa lain hanya demi keuntungan segelintir perusahaan. Indonesia seakan tak mendapat apa-apa dari kehadiran perusahaan kelapa sawit, kecuali bencana dan wajah coreng-moreng hitam akibat asap. Selain korban manusia, kita belum membahas flora dan fauna yang mengisi biodiversitas di hutan yang terbakar. Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 27 Oktober 2015, di halaman 6 dengan judul "Sungguh, Ini Tragedi Nyata". Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu

Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu

Ø  Data Publikasi
Kategori                      : Tajuk Rencana
Judul                           : Sungguh, Ini Tragedi Nyata
Penerbit                       : Kompas
No / Tanggal terbit      : 27 Oktober 2015
No. Halaman               : Halaman ke-6
Ø  Ringkasan
            Di negara kita ini banyak lahan dan hutan yang terbakar yang kerugiannya mencapai Rp 20 triliun. Dari musibah itu 12 waraga meninggal, dan sekitar 504.000 warga kita terkena infeksi saluran paru-paru.
            Seluruh wilayah Indonesia seolah tengah terbakar dari Sumatera, Kalimantan, Lawu, Riau, Jambi dll. Hal ini terjadi sebab kemurkaan para manusianya, dimana para pengusaha kelapa sawit membakar hutan demi perluasan area. Betapa kejamnya pengusaha itu disamping membakar lahan mereka juga mematikan manusia berpuluh-puluh ribu. Pelaku dan pemberi izin atas kejadian pembakan hutan dan lahan ini sangat sulit dimaafkan walaupun mereka telah membayar ganti rugi triliunan rupiah. Hal itu tidak sebanding dengan apa yang dirasakan masyarakat. Asap dari kebakaran itu melumpuhkan penerbangan, dan mengangggu perekonimian serta pendidikan bahkan mematikan orang karena terkena ispha.

PENDIDIKAN KARAKTER SEBAGAI KUNCI PEMBANGUNAN BANGSA



BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang

Pendidikan karakter memiliki makna lebih tinggi dari pendidikan moral, karena pendidikan karakter tidak hanya berkaitan dengan masalah benar-salah, tetapi bagaimana menanamkan kebiasaan (habit) tentang hal-hal yang baik dalam kehidupan, sehingga anak/peserta didik memiliki kesadaran, dan pemahaman yang tinggi, serta kepedulian dan komitmen untuk menerapkan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa karakter merupakan sifat alami seseorang dalam merespons situasi secara bermoral, yang ditunjukkan dalam tindakan nyata melalui perilaku jujur, baik, bertanggung jawab, hormat terhadap orang lain, dan nilai-nilai karakter mulia lainnya. Dalam konteks pemikiran Islam, karakter berkaitan dengan iman dan ikhsan. Hal ini sejalan dengan ungkapan Aristoteles, bahwa karakter erat kaitannya dengan “habit” atau kebiasaan yang terus-menerus dipraktikkan dan diamalkan.
Wynne (1991) mengemukakan bahwa karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” (menandai) dan memfokuskan pada bagaimana menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam tindakan nyata atau perilaku sehari-hari. Oleh sebab itu, seorang yang berperilaku tidak jujur, curang, kejam, dan rakus dikatakan sebagai orang yang memiliki karakter jelek, sedangkan yang berperilaku baik, jujur, dan suka menolong dikatakan sebagai orang yang memiliki karakter baik/mulia.

Civic Knowlegde yang harus diketahui warga negara sebagai Masyarakat Multikultural Indonesia



1.    Masyarakat indonesia adalah masyarakat yang sangat beranekaragam yang terdiri atas berbagai kelompok etnis, ras, budaya, agama, dan lain-lain, sering disebut masyarakat plural atau heterogen. Setiap masyarakat di daerah Indonesia memiliki kebudayaan dan ciri khas tersendiri yang mampu membedakan antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain. Maka diperlukan sikap toleransi dan saling menghargai hak asasi manusia sehingga terwujud ideologi yang mengakui perbedaan dalam kesederajatan, baik secara individual maupun secara kebudayaan. Lebih tepatnya masyarakat multikultural tidaklah hanya sebagai konsep keanekaragaman secara suku bangsa atau kebudayaan suku bangsa yang menjadi ciri masyarakat majemuk, akan tetapi menekankan pada keanekaragaman kebudayaan dalam kesederajatan.

Pengertian Pendidikan Multikultural dengan Berbagai Sumber



Pendidikan multikultural (Multicultural Education) merupakan respons terhadap perkembangan keragaman populasi sekolah, sebagaimana tuntutan persamaan hak bagi setiap kelompok. Dalam dimensi lain, pendidikan multikultural merupakan pengembangan kurkulum dan aktivitas pendidikan untuk memasuki berbagai pandangan, sejarah, prestasi dan perhatian terhadap orang-orang non Eropa (Hilliard, 1991-1992). Sedangkan secara luas, pendidikan multikultural itu mencakup seluruh siswa tanpa membedakan kelompok-kelompoknya seperti gender, etnic, ras, budaya, strata sosial, dan agama. [1]
Pendidikan multikultural sebagai perspektif yang mengakui realitas politik, social, dan ekomomi yang dialami oleh maing-masing individu dalam pertemuan manusia yang kompleks dan beragan secara kultur, dan merefleksikan pentingnya budaya, ras, seksualitas dan gender, etnisitas, agama, status social, ekonomi, dan pengecualian-pengecualian dalam proses pendidikan. Hilda Hernandez (1989:10). [2]