Contoh Soal Conditional Sentenses

A. Pilihan Ganda
1.      If I.......stronger, I'd help you carry the piano.
      a.       am
      b.      will be
      c.       were
      d.      has been

2.      If we'd seen you, we......
      a.      Would have stopped
      b.      Would stop
      c.       Had stopped
      d.      Stopped

3.      If we.......him tomorrow, we'll say hello.
      a.       Meet
      b.      Will meet
      c.       Met
      d.      Had met

4.      He would have repaired the car himself if he.........the tools.
      a.       Has
      b.      Had
      c.       Had had
      d.      Will have

5.      If you drop the vase, it......
      a.       Breaks
      b.      Will break
      c.       Broke
      d.      Had broken

6.      If I hadn't studied, I.........the exam.
      a.       Do not pass
      b.      Will not pass
      c.       Would not pass
     d.      Would not have passed

7.      I wouldn't go to school by bus if I........a driving licence.
      a.       Have
      b.      Will have
      c.       Had
      d.      Had had

8.      If she........him every day, she'd be lovesick.
      a.       Doesn’t see
      b.       Won’t see
      c.       Hadn’t see
      d.      Didin’t see

9.      I.......to London if I don't get a cheap flight.
      a.       Don’t travel
      b.      Won’t travel
      c.       Didn’t travel
      d.      Wouldn’t travel

10.  We'd be stupid if we.........him about our secret.
      a.       Tell
      b.      Will tell
      c.       Told
      d.      had told

B. Isian

  1. If I had more time, I (come)......... to your party yesterday.
  2. Give the book to Jane if you (read).......... it.
  3. If you hadn't lost our flight tickets, we (be)......... on our way to the Caribbean now.
  4. If you (have)........... dinner right now, I'll come back later.
  5. If we (set)......... off earlier, we wouldn't be in this traffic jam now.
  6. What would you do if you (accuse).......... of murder?
  7. If I hadn't eaten that much, I (feel / not) ...........so sick now.
  8. We would take another route if they (close / not)........... the road.
  9. She only (sing) ..........if she's in a good mood.
  10. If she were sensible, she (ask)........... that question, by which she offended him so much.

answer :

11. If I had more time, I would have come general situation had an influence on an action in the past. see exceptions Type II(i) to your party yesterday.

12. Give the book to Jane if you have read request for the case that the action is completed. See exceptions Type I(i) it.

13. If you hadn't lost our flight tickets, we would be Action in the past that has an influence on the present. See exceptions Type III(i) on our way to the Caribbean now.

14. If you are having An action going on now is the condition for an action in the future. see exceptions Type I(i) dinner right now, I'll come back later.

15. If we had set Action in the past that has an influence on the present. see exceptions Type III(i) off earlier, we wouldn't be in this traffic jam now.

16. What would you do if you were accused a normal Conditional Sentence Type II - but you have to use passive voice also possible as Exception Type III (Action in the past that has an influence on the present.)(i) of murder?

17. If I hadn't eaten that much, I would not feel Action in the past that has an influence on the present. see exceptions Type III(i) so sick now.

18. We would take another route if they had not closed Action in the past that has an influence on the present. see exceptions Type III(i) the road.

19. She only sings fact that is always true under a certain condition. see exceptions Type I(i) if she's in a good mood.

20. If she were sensible, she would not have asked general situation had an influence on an action in the past. see exceptions Type II(i) that question, by which she offended him so much.

Roro jonggrang

Alkisah pada zaman dahulu kala, berdiri sebuah kerajaan yang sangat besar yang bernama Prambanan. Rakyat Prambanan sangat damai dan makmur di bawah kepemimpinan raja yang bernama Prabu Baka. Kerajaan-kerajaan kecil di wilayah sekitar Prambanan juga sangat tunduk dan menghormati kepemimpinan Prabu Baka.

Sementara itu di lain tempat, ada satu kerajaan yang tak kalah besarnya dengan kerajaan Prambanan, yakni kerajaan Pengging. Kerajaan tersebut terkenal sangat arogan dan ingin selalu memperluas wilayah kekuasaanya.
Kerajaan Pengging mempunyai seorang ksatria sakti yang bernama Bondowoso. Dia mempunyai senjata sakti yang bernama Bandung, sehingga Bondowoso terkenal dengan sebutan Bandung Bondowoso. Selain mempunyai senjata yang sakti, Bandung Bondowoso juga mempunyai bala tentara berupa Jin. Bala tentara tersebut yang digunakan Bandung Bondowoso untuk membantunya untuk menyerang kerajaan lain dan memenuhi segala keinginannya.


Hingga Suatu ketika, Raja Pengging yang arogan memanggil Bandung Bondowoso. Raja Pengging itu kemudian memerintahkan Bandung Bondowoso untuk menyerang Kerajaan Prambanan. Keesokan harinya Bandung Bondowoso memanggil balatentaranya yang berupa Jin untuk berkumpul, dan langsung berangkat ke Kerajaan Prambanan.

Setibanya di Prambanan, mereka langsung menyerbu masuk ke dalam istana Prambanan. Prabu Baka dan pasukannya kalang kabut, karena mereka kurang persiapan. Akhirnya Bandung Bondowoso berhasil menduduki Kerajaan Prambanan, dan Prabu Baka tewas karena terkena senjata Bandung Bondowoso.

Kemenangan Bandung Bondowoso dan pasukannya disambut gembira oleh Raja Pengging. Kemudian Raja Pengging pun mengamanatkan Bandung Bondowoso untuk menempati Istana Prambanan dan mengurus segala isinya,termasuk keluarga Prabu Baka.

Pada saat Bandung Bondowoso tinggal di Istana Kerajaan Prambanan, dia melihat seorang wanita yang sangat cantik jelita. Wanita tersebut adalah Roro Jonggrang, putri dari Prabu Baka. Saat melihat Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso mulai jatuh hati. Dengan tanpa berpikir panjang lagi, Bandung Bondowoso langsung memanggil dan melamar Roro Jonggrang.

“Wahai Roro Jonggrang, bersediakah seandainya dikau menjadi permaisuriku?”, Tanya Bandung Bondowoso pada Roro Jonggrang.

Mendengar pertanyaan dari Bandung Bondowoso tersebut, Roro Jonggrang hanya terdiam dan kelihatan bingung. Sebenarnya dia sangat membenci Bandung Bondowoso, karena telah membunuh ayahnya yang sangat dicintainya. Tetapi di sisi lain, Roro Jonggrang merasa takut menolak lamaran Bandung Bondowoso. Akhirnya setelah berfikir sejenak, Roro Jonggrang pun menemukan satu cara supaya Bandung Bondowoso tidak jadi menikahinya.

“Baiklah,aku menerima lamaranmu. Tetapi setelah kamu memenuhi satu syarat dariku”,jawab Roro Jonggrang.

“Apakah syaratmu itu Roro Jonggrang?”, Tanya Bandung Bandawasa.

“Buatkan aku seribu candi dan dua buah sumur dalam waktu satu malam”, Jawab Roro Jonggrang.

Mendengar syarat yang diajukan Roro Jonggrang tersebut, Bandung Bondowoso pun langsung menyetujuinya. Dia merasa bahwa itu adalah syarat yang sangat mudah baginya, karena Bandung Bondowoso mempunyai balatentara Jin yang sangat banyak.

Pada malam harinya, Bandung Bandawasa mulai mengumpulkan balatentaranya. Dalam waktu sekejap, balatentara yang berupa Jin tersebut datang. Setelah mendengar perintah dari Bandung Bondowoso, para balatentara itu langsung membangun candi dan sumur dengan sangat cepat.

Roro Jonggrang yang menyaksikan pembangunan candi mulai gelisah dan ketakutan, karena dalam dua per tiga malam, tinggal tiga buah candi dan sebuah sumur saja yang belum mereka selesaikan.

Roro Jonggrang kemudian berpikir keras, mencari cara supaya Bandung Bondowoso tidak dapat memenuhi persyaratannya.

Setelah berpikir keras, Roro Jonggrang akhirnya menemukan jalan keluar. Dia akan membuat suasana menjadi seperti pagi,sehingga para Jin tersebut menghentikan pembuatan candi.

Roro Jonggrang segera memanggil semua dayang-dayang yang ada di istana. Dayang-dayang tersebut diberi tugas Roro Jonggrang untuk membakar jerami, membunyikan lesung, serta menaburkan bunga yang berbau semerbak mewangi.

Mendengar perintah dari Roro Jonggrang, dayang-dayang segera membakar jerami. Tak lama kemudian langit tampak kemerah merahan, dan lesung pun mulai dibunyikan. Bau harum bunga yang disebar mulai tercium, dan ayam pun mulai berkokok.

Melihat langit memerah, bunyi lesung, dan bau harumnya bunga tersebut, maka balatentara Bandung Bondowoso mulai pergi meninggalkan pekerjaannya. Mereka pikir hari sudah mulai pagi, dan mereka pun harus pergi.

Melihat Balatentaranya pergi, Bandung Bondowoso berteriak: “Hai balatentaraku, hari belum pagi. Kembalilah untuk menyelesaikan pembangunan candi ini !!!”

Para Jin tersebut tetap pergi, dan tidak menghiraukan teriakan Bandung Bondowoso. Bandung Bondowoso pun merasa sangat kesal, dan akhirnya menyelesaikan pembangunan candi yang tersisa. Namun sungguh sial, belum selesai pembangunan candi tersebut, pagi sudah datang. Bandung Bondowoso pun gagal memenuhi syarat dari Roro Jonggrang.

Mengetahui kegagalan Bandung Bondowoso, Roro Jonggrang lalu menghampiri Bandung Bondowoso. “Kamu gagal memenuhi syarat dariku, Bandung Bondowoso”, kata Roro Jonggrang.

Mendengar kata Roro Jonggrang tersebut, Bandung Bondowoso sangat marah. Dengan nada sangat keras, Bandung Bondowoso berkata: “Kau curang Roro Jonggrang. Sebenarnya engkaulah yang menggagalkan pembangunan seribu candi ini. Oleh karena itu, Engkau aku kutuk menjadi arca yang ada di dalam candi yang keseribu !”

Berkat kesaktian Bandung Bondowoso, Roro Jonggrang berubah menjadi arca/patung. Wujud arca tersebut hingga kini dapat disaksikan di dalam kompleks candi Prambanan, dan nama candi tersebut dikenal dengan nama candi Roro Jonggrang. Sementara candi-candi yang berada di sekitarnya disebut dengan Candi Sewu atau Candi Seribu.

Pangeran Samudro

Legenda Gunung kemukus utawa Legenda Pangeran Samodra iku asale utawa dikenal neng desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, kabupaten Sragen, 26 kilometer saka tlatah Surakarta mengidul. Neng Gunung Kemukus iku ana sarean kramate Pangeran Samodra sing saiki papane kanggo obyek wisata neng kabupaten Sragen. Saben malem jum’at pon, kuburan kramat Pangeran Samodra iku ditekani wong akeh saka ngendi-ngendi sing biasane arep nggolek pesugihan.

Sejatine sing diarani Gunung Kemukus iku beda karo gunung-gunung liyane, kayata Gunung Merapi, Gunung Merbabu, lan sakpiturute. Gunung Kemukus iku dhuwure mung 300 meter saka permukaan laut. Dadi sakjane Gunung Kemukus iku mung gunung anakan. Jeneng “Kemukus” iku sejatine saka jeneng wit kemukus, kaya wit ringin, nanging ora nduwe sulur (akar gantung). Godhonge bisa dienggo tamba. Ananging sumber liyane nyebutake yen jeneng “Kemukus” kuwi saka tembung “Kukus”, amarga saka gunung kuwi kerep metu keluk sing asale saka obong-obongan menyan sing dadi sarat wong-wong sing padha njaluk berkah neng makam kramate Pangeran Samodra.


Miturut cerita saka masyarakat, Pangeran Samodra iku putrane Pangeran Kadilangu utawa.Sunan Kalijaga sing gagah, bagus, lan tuture alus, ananging yen diusut lewat sejarah, putrane Sunan Kalijaga iku jenenge Sunan Muria. Mulane legenda iku isih mbingungke.

Nalika semana, Kerajaan Majapahit pecah amarga ana pemberontakan Girindrawardana, priyayi-priyayi lan punggawan-punggawan padha mlayu nyelametake awake dhewe-dhewe. Ana sing lunga neng Gunung Tengger, ana sing nyebrang neng Bali. Pangeran Samodra bingung, arep melu lunga apa pilih tetep neng kono.


“Aja melu-melu para priyayi lan punggawan sing padha pilih nyingkir saka kene Pangeran Samodra. Meluwa aku wae! Aku arep pindhah neng Demak, banjur ngedekke pemerintahan neng kana”, ngendikane Raden Patah.

“Sendika dhawuh Raden”, semaure Pangeran Samodra.
Akhire Pangeran Samodra lan ibu kuwalone, Dewi Ontrowulan pindah Raden Patah neng Demak.
Tekan Demak, Raden Patah sak rombongane nyiapke pemerintahan dinggo nglawan Girindrawardana sing saiki nguwasani Majapahit. Raden Patah banjur nimbali Pangeran Samodra supaya ngadhep.
“Wonten dawuh punapa Raden?”.

“Pangeran Samodra, aku iki lagi nyiapke pemerintahan sing kuwat kanggo nglawan Girindrawardana, mula iku kanggo jaga-jaga lan supaya pemerintahane kuwat, aku pengen nglumpukake para priyayi lan punggawan-punggawan sing padha nyingkir, kocar-kacir ora nggenah. Aku ngutus njenengan supaya nggoleki lan nglumpukke para priyayi-priyayi lan punggawan-punggawan sing padha lunga kuwi, supaya pemerintahanne Demak bisa luwih kuwat nglawan Girindrawardana.
“Sendika dhawuh Raden”.

Tanpa kakeyan mikir, Pangeran Samodra langsung nyanggupi. Bareng wis budal, Pangeran Samodra rada kangelan anggone nggoleki para Punggawan lan priyayi amarga dheweke ora ngerti panggonane wong-wong iku saiki lan ana sing sengojo ndelik amarga ngerti yen lagi digoleki dening Pangeran Samodra.

Bareng suwe olehe Pangeran Samodra nggoleki, akhire neng lereng Gunung Lawu, Pangeran Samodra ketemu karo Raden Gugur. Banjur ketemu Raden Bethara Katong, sing biasane dikenal wong nganggo jeneng Adipati Ponorogo, Adipati Madiun, lan akeh meneh sing akhire gelem balik ndukung Raden Patah.

Neng Demak, Dewi Ontrowulan dadi kangen banget karo anak kuwalone, Pangeran Samodra.
“Pangeran Samodra, kapan sliramu bali neng Demak? Wis suwe anggonmu lunga ngemban tugas, ananging kena apa, tekan saiki sliramu ora bali-bali?”, ngomonge Dewi Ontrowulan nalika dheweke ngalamun neng kamar.


Pangeran Samodra wiwit lara-laranen amarga kekeselen.
“Pangeran Samodra, gandheng panjenengan nembe gerah, punapa mboten luwih sekeco panjenengan kondur kemawon dhateng Demak?”, mature prajurit marang Pangeran Samodra.
Bareng rombongan wis tekan neng dukuh barong, Pangeran Samodra lara meneh.


“Wis ngene wae, gandheng awakku lagi lara, awakku kayane ya ra kuwat, mendhing aku keri neng kene wae. Kowe-kowe padha baliya neng Demak, laporan karo Raden Patah. Karo tulung aturke sembah sungkem kagem kanjeng ibu, Dewi Ontrowulan”. Ngendikane Pangeran Samodra marang prajurit-prajurite.


Nalika prajurit loro mau mangkat lunga neng Demak, larane Pangeran Samudra saya nemen . Pangeran Samodra uwis krasa yen Dheweke wis cedhak karo ajale. Pangeran Samodra paring dawuh marang salah siji prajurite sing isih ngancani dheweke.


“Aku wis bener-bener ra kuwat meneh. Kayake aku arep ditimbali Gusti.Yen mengko wis tekan janjiku, dipundhut dening Gusti, tulung aku kuburen neng gunung anakan Kemukus sing panggone sakulone dukuh Barong iki”, ngendikane Pangeran Samodra.

“Ampun ngendikan kados mekaten, Pangeran…”.

Nalika prajurit loro mau tekan Kerajaan Demak Dewi Ontrowulan sedih, krungu kabar yen anake lara. Banjur dheweke njaluk ijin Raden Patah nyusul Pangeran Samodra neng dukuh Barong.
“Raden patah, dalem nyuwun pamit, badhe nyusul Pangeran Samodra dhateng Dukuh Barong. Dalem sampun kangen sanget Raden”.


“Ya Dewi Ontrowulan, enggal budhalo”.

Dewi Ontrowula cepet-cepet nyusul Pangeran Samodra neng Dukuh Barong. Atine Dewi Ontrowulan remuk banget nalika tekan panggonan sing dituju, Pangeran Samodra wis seda, lagi arep dikubur neng gunung anakan Kemukus. Ontrowulan nyusul rombongan wong sing nggawa mayite Pangeran Samodra karo nangis sesenggukan. Dewi Ontrowulan rumangsa perlu nyuceni awake sadurunge nyedhak mayite Pangeran Samodra, akhire Ontrowulan adus neng tlogo tilase sing dinggo ngaduse mayite Pangeran Samodra. Bareng wis resik, Ontrowulan nyusul Pangeran Samodra, pas Pangeran Samodra arep dilebokake neng jogangan kuburan.

Miturut wong-wong sing padha layat, Dewi Ontrowulan sing nyekseni mayite Pangeran dilebokake neng jogangan kuburan mau ngerti-ngerti ora sadar, seda, lan melu nyemplung neng njero jogangan, dadi siji karo Pangeran Samodra. Akhire Pangeran Samodra lan Dewi Ontrowulan dikubur bareng neng sakjogangan.

Iwit Bajing lan Tikus Cilik

Iwit si bajing sing manggon ing wit klapa pinggir dalan gedhe sedhih atine. Geneya? Sebab dheweke durung duwe pasedhiyan pangan senajan mung sethithik. Kamangka sedhela engkas wis mangsa rendheng. Nanging apa sing dialami Iwit iki ya merga saka kesede dhewe. Kamangka, wit klapa sing dipanggoni turu wis ora nguwoh maneh jalaran saking tuwane umure.
Sasuwene mangsa ketiga Iwit turu wae. Emoh nyambutgawe. Mulane, saiki Iwit munyeng mikirake tekane mangsa rendheng mengko, piye bisane ing mangsa iku dheweke panggah mangan kaya biasane. Ora kaliren.
Ing dhuwur wit, Iwit duwe tangga jenenge Kiki Tikus.
“Rewangana aku ya, supaya bisa golek pangan ing mangsa rendheng mengko….” kandhane Iwit marang Kiki Tikus.
“Iya, aja kuwatir,” wangsulane Kiki.
“Carane, wiwit saiki kudu nyambutgawe sing mempeng, golek wit-wit sing nguwoh akeh. Ben bisa nglumpukake pangan.”
Krungu kandhane Kiki ngono mau, Iwit mencep. “Apa? Aku kudu nyambutgawe? Huhh… wegah…wegah..!” Iwit gebes-gebes, banjur molet lan angop. Let sedhilut wis turu nglepus. Sauntara iku kanca-kancane, kaya prenjak lan dara, padha ibut nyambutgawe.
Sawijining dina, nalika lagi enak-enak turu, dumadakan Iwit krungu swara tangis. Dheweke banjur nggoleki asale swara mau. Tibake ana tikus cilik lagi nangis ing ngisor wit cemara cedhak wit klapa panggonane Iwit turu.
“Geneya kowe kok nangis?” pitakone Iwit.
Tikus cilik iku nyawang Iwit, banjur ngelapi eluhe nganggo sikil ngarep.
“Aku sumpeg, sedhilut engkas mangsa rendheng. Nanging aku ora duwe papan kanggo ngeyub. Aku bisa mati katisen yen ora nemu papan kanggo ngeyub sasuwene mangsa rendheng,” wusana kewetu sambate.
“Aku ya sumpeg…. wis meh rendheng  durung duwe pasedhiyan pangan blas. Bisa-bisa aku mati kaliren mengko,” Iwit genti sambat.
Kekarone banjur meneng. Lungguh sangga uwang, mikir nasibe dhewe-dhewe. Suwe-suwe Iwit angop amba lan turu nglepus. Dene tikus cilik, rumangsa oleh kanca senasib, marani panggonane Iwit. Banjur mlungker ing buntute Iwit sing empuk lan kandel. Tikus kuwi turu nglipus ing kono nganti Iwit nglilir.
“Buntutmu anget, kandel, lan empuk. Angler banget olehku turu ana buntutmu mau,” kandhane Kiki Tikus bareng Iwit nglilir.
“Iya ta? Nek ngono, kowe wis nemokake papan kanggo turu selawase mangsa rendheng iki.”
“Ing endi?” pitakone tikus cilik ora ngerti.
“Ing buntutku….”
“Tenan? Kowe ora kabotan?”
“He’em.”
“Matur suwun Wit, matur suwun,” kandhane si tikus cilik seneng banget. Ing batin dheweke janji arep mbales kabecikane Iwit Bajing. Lan dheweke ngerti, yen Iwit Bajing rada males nglumpukake pasedhiyan pangan.
Tikus cilik iku banjur sengkud nyambutgawe nglumpukake pasedhiyan pangan mangsa rendheng kanggo dheweke dhewe lan Iwit Bajing kancane. Kaya apa bungahe Iwit weruh gudhange wis kebak panganan. Ana cuwilan klapa, cuwilan roti, pohung, lan liya-liyane. Ateges dheweke bisa mangan wareg ing mangsa rendheg mengko.
“Kowe ora kabotan ta Kus, nggolekake pangan aku?”
“Ora. Pancen aku pengin males kabecikanmu kok.”
“Matur nuwun, matur nuwun banget. Aku….”
“Ora angel kok nglumpukake pangan kuwi, Wit. Sing penting mung gelem nyambutgawe mempeng….”
Iwit mesem isin. ”He’em, pancen kudune aku nyambutgawe mempeng kaya kowe lan kanca-kanca liyane.” Iwit banjur ngrangkul tikus cilik kancane kuwi. “Sesuk aku arep golek pangan bareng kowe, ora bakal turu wae. Matur nuwun Kus, kowe wis nyadharake aku….”

Langkah -Langkah Mengerjakan MYOB

1.       Company File
Nama perusahaan, company number, alamat, telephon, fax, e-mail

2.       Periode
Tahun berjalan, bulan berakhir, bulan berjalan (bulan transaksi itu terjadi), periode twelve (1tahun)

3.     Perancang account list -> pilih nomor 3
4.      Penyimpanan -> charge
5.     Command centre
6.      Merancang Account list
7.      Saldo awal
8.       Linked account
9.      Merancang Pajak
10.   Merancang card file -> supplier/customer
11.   Merancang saldo awal supplier/customer
12.   Inventory
13.   Adjust Inventory
14.   Membukukan transaksi
15.   Mencetak Lembar Keuangan >> balance sheet, income statement,/profit and lost, cash flow
16.   Close

Prosedur Penerimaan Barang

Seperti disebutkan dimuka, Bagian Penerimaan Barang berfungsi sebagai penerima dan pemeriksa barang yang dikirim oleh pemasok sesuai dengan order pembelian.
Kegiatan yang dilakukan bagian penerimaan dalam aktivitas penerimaan barang meliputi pemeriksaan terhadap barang dan membuat laporan hasil pemeriksaan.

1.       Pemeriksaan barang
       Pemeriksaan barang dilakukan antara lain terhadap :
a.       Nama dan alamat pengirim;
b.      Surat pegantar dari pengirim;
c.       Nomor order pembelian yang dikeluarkan perusahaan sendiri;
d.      Nomor kendaraan yang digunakan, Jika digunakan kendaraan milik perusahaan sendiri (pembeli), nama sopir dicatat;
e.      Pembungkus dan segel pembungkus;
f.        Nama dan spesifikasi (jenis, type, ukuran) barang;
g.       Kuantitas, kualitas dan keadaan (kondisi) barang;

2.       Pembuatan laporan penerimaan laporan

Laporan penerimaan barang memuat informasi mengenai hasil pemeriksaan baik terhadap dokumen yang terkait dengan penerimaan barang seperti surat pengantar dari pemasok dan order pembelian yang dikeluarkan perusahaan, maupun terhadap fisik barang seperti nama, jenis, type, ukuran, kuantitas, mutu, dan kondisi barang